Powered By Blogger

Sabtu, 26 Maret 2011

PESIKOLOGI MENGENAI KONSEP DIRI

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sistem terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Manusia dalam mewujudkan keadaannya untuk sehat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan seseorang disebut sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya.
Aktualisasi diri menurut Maslow merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi dan untuk mencapainya diperlukan konsep diri yang sehat. Konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tantang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain.
Konsep diri adalah citra subyektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri dikembangkan melalui proses yang sangat kompleks yang melibatkan banyak variable. Ke empat komponen konsep diri adalah identitas, citra tubuh, harga diri dan peran. Konsep diri adalah kombinasi dinamis yang dibentuk selama selama bertahun-tahun dan didasarkan pada hal berikut :
a.    Reaksi orang lain terhadap tubuh seseorang
b.    Persepsi berkelanjutan tentang reaksi orang lain terhadap dirinya
c.    Hubungan dengan diri dan orang lain
d.    Struktur kepribadian
e.    Persepsi terhadap stimulus yang mempunyai dampak pada diri
f.      Pengalaman baru atau sebelumnya
g.    Perasaan saat ini tentang fisik, emosional dan social diri
h.    Harapan tentang diri
Konsep diri memberikan rasa kontinuitas, keutuhan dan konsistensi pada seseorang.  Konsep diri yang sehat mempunyai tingkat kesetabilan yang tinggi dan membangkitkan perasaan negatif atau positif yang ditujukan pada diri.
Identitas membentuk salah satu dari keempat prinsip yang terintigrasi dari konsep diri. Selain itu, citra tubuh yang merupakan gambaran dari mental kita adalah bagian konsep diri yang mencakup sikap dan pengalaman yang berkaitan dengan tubuh, termasuk pandangan tentang maskulinitas dan feminitas, kegagahan fisik, daya tahan dan kapabilitas. Citra tubuh berkembang secara bertahap dan dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu dan bulan bergantung pada stimuli eksternal pada tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, struktur dan fungsi. Cara orang lain melihat tubuh kita juga mempunyai pengaruh.
Harga diri berasal dari dua sumber, yaitu diri sendiri dan orang lain. Harga diri bergantung pada kasih sayang dan penerimaan. Harga diri mencakup penerimaan diri sendiri karna nilai dasar, meski lemah dan terbatas.
Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide, dan tujuan.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Komponen konsep diri
Konsep diri dapat digambarkan dalam istilah rentang dari kuat sampai lemah atau dari positif sampai negatif. Bergantung kepada kekuatan individu dari keempat komponen konsep dirinya. 
1.    Identitas
Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan dan konsistensi dari seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Identitas menunjukkan menjadi lain dan terpisah dari orang lain, namun menjadi diri yang utuh dan unik.
Pencapaian identitas diperlukan untuk hubungan yang intim karna identitas seseorang diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain.
2.    Citra tubuh
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang lain.
Citra tubuh juga dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik, sikap, nilai cultural dan sosial.
3.    Harga diri
Harga diri berdasarkan pada faktor internal dan eksternal. Harga diri dapat dipahami dengan memikirkan hubungan antara konsep diri seseorang dan diri ideal. Diri ideal terdiri atas aspirasi, tujuan, nilai dan standar perilaku yang diupayakan untuk dicapai.
Evaluasi diri adalah proses mental yang berkelanjutan. Nilai-nilai atau harga diri adalah kebutuhan dasar manusia yang dipengaruhi oleh sejumlah kontrol yang mereka miliki terhadap tujuan dan keberhasilan dalam hidup. 
4.    Peran
Peran mencakup harapan atau standar perilaku yang telah diterima oleh keluarga, komunitas dan kultur. Perilaku didasarkan pada pola yang ditetapkan melalui sosialisasi. Sosialisasi itu sendiri dimulai tepat setelah lahir, ketika bayi berespons terhadap orang dewasa dan orang dewasa berespons terhadap perilaku bayi. Anak belajar perilaku yang diterima oleh masyarakat melalui proses berikut :
a.    Reinforcement-extinction : perilaku tertentu menjadi umum atau dihindari, bergantung apakah perilaku ini diterima dan diharuskan atau tidak diperbolehkan dan dihukum.
b.    Inhibisi : seorang anak belajar memperbaiki perilaku, bahkan ketika berupaya untuk melibatkan diri mereka.
c.    Substitusi : seorang anak menggantikan satu perilaku dengan perilaku lainnya, yang memberikan kepuasan peribadi yang sama
d.    Imitasi : seorang anak mendapatkan pengetahuan, keterampilan atau perilaku dari anggota social atau kelompok cultural.
e.    Identifikasi : seorang anak menginternalisasikan keyakinan, perilaku, dan nilai dari model peran ke dalam ekspresi diri yang unik dan personal.
Selama sosialisasi, seorang anak umumnya mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk berfungsi dalam banyak peran yang berbeda. Sosialisasi yang tidak berhasil adalah ketidakmampuan untuk berfungsi seperti yang dapat diterima oleh nilai masyarakat.

B.  Perkembangan konsep diri
Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik yang membantu seseorang dalam mengembangkan konsep diri yang positif.
1.  Bayi
Apa yang pertama kali dibutuhkan seorang bayi adalah pemberi perawatan primer dan hubungan dengan pemberi perawatan tersebut. Bayi menumbuhkan rasa percaya dari konsistensi dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain. Penyapihan, kontak dengan orang lain, dan penggalian lingkungan memperkuat kewaspadaan diri. Tanpa stimulasi yang kuat dari kemampuan motorik dan penginderaan, perkembangan citra tubuh dan konsep diri mengalami kerusakan. Pengalaman pertama bayi dengan tubuh mereka yang sangat ditentukan oleh kasih sayang dan sikap ibu adalah dasar untuk perkembangan citra tubuh.     
2.  Todler
Tugas psikososial utama mereka adalah mengembangkan otonomi. Anak-anak beralih dari ketergantungan total kepada rasa kemandirian dan keterpisahan diri mereka dari orang lain. Mereka mencapai keterampilan dengan makan sendiri dan melakukan tugas higien dasar. Anak usia bermain belajar untuk mengoordinasi gerakan dan meniru orang lain. Mereka belajar mengontrol tubuh mereka melalui keterampilan locomotion, toilet training, berbicara dan sosialisasi.  
3.  Usia prasekolah
Pada masa ini seorang anak memiliki inisiatif, mengenali jenis kelamin, meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan sensitive terhadap umpan balik keluarga. Anak-anak belajar menghargai apa yang orang tua mereka hargai. Penghargaan dari anggota keluarga menjadi penghargaan diri. Kaluarga sangat penting untuk pembentukan konsep diri anak  dan masukan negatif pada masa ini akan menciptakan penurunan harga diri dimana orang tersebut sebagai orang dewasa akan bekerja keras untuk mengatasinya.
4.  Anak usia sekolah
Pada masa ini seorang anak menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru. Dengan anak memasuki usia sekolah, pertumbuhan menjadi cepat dan lebih banyak didapatkan keterampilan motorik, sosial dan intelektual. Tubuh anak berubah, dan identitas seksual menguat, rentan perhatian meningkat dan aktivitas membaca memungkinkan ekspansi konsep diri melalui imajinasi ke dalam peran, perilaku dan tempat lain. Konsep diri dan citra tubuh dapat berubah pada saat ini karena anak terus berubah secara fisik, emosional, mental dan sosial.
5.  Masa remaja
Masa remaja membawa pergolakan fisik, emosional, dan sosial. Sepanjang maturasi seksual, perasaan, peran, dan nilai baru harus diintegrasikan ke dalam diri. Pertumbuhan yang cepat yang diperhatikan oleh remaja dan orang lain adalah faktor penting dalam penerimaan dan perbaikan citra tubuh.
Perkembangan konsep diri dan citra tubuh sangat berkaitan erat dengan pembentukan identitas. Pengamanan dini mempunyai efek penting. Pengalaman yang positif pada masa kanak-kanak memberdayakan remaja untuk merasa baik tentang diri mereka. Pengalaman negatif sebagai anak dapat mengakibatkan konsep diri yang buruk. Mereka mengumpulkan berbagai peran perilaku sejalan dengan mereka menetapkan rasa identitas.     
6.  Masa dewasa muda
Pada masa dewasa muda perubahan kognitif, sosial dan perilaku terus terjadi sepanjang hidup. Dewasa muda adalah periode untuk memilih. Adalah periode untuk menetapakan tanggung jawab, mencapai kestabilan dalam pekerjaan dan mulai melakukan hubungan erat. Dalam masa ini konsep diri dan citra tubuh menjadi relatif stabil.
Konsep diri dan citra tubuh adalah kreasi sosial, penghargaan dan penerimaan diberikan untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial. Konsep diri secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasi dalam nilai, sikap, dan perasaan tentang diri.
7.  Usia dewasa tengah
Usia dewasa tengah terjadi perubahan fisik seperti penumpukan lemak, kebotakan, rambut memutih dan varises. Tahap perkembangan ini terjadi sebagai akibat perubahan dalam produksi hormonal dan sering penurunan dalam aktivitas mempengarui citra tubuh yang selanjutnya dapat mengganggu konsep diri.
Tahun usia tengah sering merupakan waktu untuk mengevaluasi kembali pengalaman hidup dan mendefinisikan kembali tentang diri dalam peran dan nilai hidup. Orang usia dewasa tengah yang manerima usia mereka dan tidak mempunyai keinginan untuk kembali pada masa-masa muda menunjukkan konsep diri yang sehat.    
8.  Lansia
Parubahan pada lansia tampak sebagai penurunan bertahap struktur dan fungsi. Terjadi penurunan kekuatan otot dan tonus otot.
Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh pengalaman sepanjang hidup. Masa lansia adalah waktu dimana orang bercermin pada hidup mereka, meninjau kembali keberhasilan dan kekecewaan dan dengan demikian menciptakan rasa kesatuan dari makna tentang diri makna tentang diri mereka dan dunia membentu generasi yang lebih muda dalam cara yang positif sering lansia mengembangkan perasaan telah meninggalkan warisan.

C.  Factor-faktor yang mempengaruhi konsep diri
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri adalah sebagai berikut :

1.  Tingkat perkembangan dan kematangan
Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak akan mempengaruhi konsep dirinya.
2.  Budaya
Dimana pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya dan lingkungannya. Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih dekat pada lingkungannya.
3.  Sumber eksternal dan internal
Dimana kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap konsep diri.
4.  Pengalaman sukses dan gagal
Ada kecendrungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri demikian pula sebaliknya.
5.  Stresor
Stresor menantang kapasitas adaptif seseorang. Selye (1956) menyatakan bahwa stres adalah kehilangan dan kerusakan normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan seseorang atau respon khas terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan perkembangan itu sendiri adalah stresor. Stresor konsep diri adalah segala perubahan nyata atau yang diserap yang mengancam identitas, citra tubuh, harga diri, atau perilaku peran.
a)    Stresor identitas
Identitas didefinisikan sebagai pengorganisasian prinsip dari system kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kontinuitas, keunikan, dan konsistensi dari kepribadian. Identitas dipengaruhi oleh stresor seumur hidup.
Bingung identitas terjadi ketika seseorang tidak mempertahankan identitas personal yang jelas, konsisten, dan terus sadar. Kebingungan identitas dapat terjadi kapan saja dalam kehidupan jika seseorang tidak mampu mengatasi stresor identitas. Dalam stress ekstrem seorang individu dapat mengalami depersonalisasi, yaitu suatu keadaan dimana realitas internal dan eksternal atau perbedaan antara diri dan orang lain tidak dapat ditetapkan.
b)    Stresor citra tubuh
Perubahan dalam penampilan, struktus atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan dalam citra tubuh. Makna dari kehilangan fungsi atau perubahan dalam penampilan dipengaruhi oleh persepsi individu tentang perubahan yang dialaminya. Citra tubuh terdiri atas elemen ideal dan nyata. Seorang wanita yang memasukkan payudara sebagai citra tubuhnya dalam elemen ideal, maka kehilangan payudara akibat mastektomi dapat menjadi perubahan yang signifikan. Makin besar makna penting dari tubuh atau bagian spesifik, maka makin besar ancaman yang dirasakan akibat perubahan dalam citra tubuh.
c)    Stresor harga diri
Harga diri adalah rasa dihormati, diterima, kompeten dan bernilai. Banyak stresor mempengaruhi harga diri seorang bayi, usia bermain, prasekolah dan remaja. Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan orang tua, kritik tajam, hukuman yang yang tidak konsisten, persaingan antara saudara sekandung, dan kekalahan yanmg berulang dapat menurunkan tingkat nilai diri. Stresor pada orang dewasa mencakup ketidakberhasilan dalam pekerjaan dan kegagalan dalam hubungan.
d)    Stresor peran
Peran membentuk pola perilaku yang diterima secara sosial yang berkaitan dengan fungsi seorang individu dalam berbagai kelompok sosial. Sepanjang hidup orang menjalani berbagai perubahan peran. Perubahan normal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan maturasi mengakibatkan transisi perkembangan. Masing-masing dari transisi dapat mengancam konsep diri yang mengakibatkan konflik peran, ambiguitas peran atau ketegangan peran.
1)    Konflik peran
Konflik peran adalah tidak adanya kesesuaian harapan peran. Jika seseorang diharuskan untuk secara bersamaan menerima dua peran atau lebih yang tidak konsisten, berlawanan, atau sangat eksklusif maka dapat terjadi konflik peran. Terdapat tiga jenis dasar konflik peran yaitu :
a.    Konflik interpersonal terjadi ketika satu orang atau lebih mempunyai harapan yang berlawanan atau tidak cocok secara individu dalam peran tertentu.
b.    Konflik antar-peran terjadi ketika tekanan atau harapan yang berkaitan dengan satu peran melawan tekanan atau harapan yang saling berkaitan.
c.    Konflik peran personal terjadi ketika tuntutan peran melanggar nilai personal individu. 
2)    Ambiguitas peran
Ambiguitas peran mencakup harapan peran yang tidak jelas. Ketika terdapat ketidakjelasan harapan, maka orang menjadi tidak pasti apa yang harus dilakukan, bagaimana harus melakukannya, atau keduanya.
3)    Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah perpaduan antara konflik peran dan ambiguitas peran. Ketegangan peran dapat diekspresikan sebagai perasaan frustasi ketika seseorang merasakan tidak adekuat atau merasa tidak sesuai dengan peran.
Kelebihan beban peran terjadi ketika seseorang individu tidak dapat memutuskan tekanan mana yang harus dipatuhi karna jumlah tuntutan yang banyak dan konflik prioritas.
6.   Usia, keadaan sakit dan trauma
Dimana usia tua dan keadaan sakit akan memengaruhi persepsi seseorang.

D.  Pengaruh perawat pada konsep diri klien
Penerimaan perawat terhadap klien dengan perubahan konsep diri membantu menstimulasi rehabilitasi yang positif. Klien yang penampilan fisiknya telah mengalami perubahan dan yang harus beradaptasi terhadap citra tubuh yang baru, hampir pasti baik klien maupun keluarganya akan melihat pada perawat dan mengamati respons dan reaksi mereka terhadap situasi yang baru. Dalam hal ini perawat mempunyai dampak yang signifikan. Rencana keperawatan yang dirumuskan untuk membantu klien dengan perubahan konsep diri dapat ditingkatkan atau digagalkan oleh nilai dan perasaan bawah sadar perawat. Penting artinya bagi perawat untuk mengkaji dan mengklarifikasi hal-hal berikut mengenai diri mereka :
1.    Perasaan perawat sendiri mengenai kesehatan dan penyakit
2.    Bagaimana perawat bereaksi terhadap stres
3.    Kekuatan komunikasi nonverbal dengan klien dan keluarganya dan bagaimana hal tersebut ditunjukkan.
4.    Nilai dan harapan pribadi apa yang ditunjukkan dan mempengaruhi klien
5.    Bagaimana pendekatan tidak menghakimi dapat bermanfaat bagi klien
Untuk menciptakan hubungan antara perawat dan pasien diperlukan komunikasi yang akan mempermudah dalam mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hubungan perawat dan klien yang terapeutik akan memepermudah proses komunikasi tersebut.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk untuk kesembuhan pasien. Tujuan komunikasi terapeutik itu sendiri adalah :
a.    Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
b.    Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.    Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Menurut Carl rogers prinsip-prinsip komunikasi terapeutik diantaranya :
a.    Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
b.    Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.
c.    Perawat harus memahami, manghayati nilai yang dianut oleh pasien.
d.    Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
e.    Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa kuat.
f.      Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya sendiri baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
g.    Mampu menetukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
h.    Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
i.      Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karma itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual dan gaya hidup.
j.      Bertanggung jawab dalam dua hal yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Adapun masalah-masalah yang dihadapi seseorang yang berhubungan dengan konsep diri adalah sebagai berikut :
1.    Kehilangan
Kehilangan (loss) adalah suatu situasi actual meupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan suatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata (actual loss) yaitu kehilangan orang atau obyek yang tidak lagi bisa dirasakan, dilihat, diraba atau dialami oleh seseorang dan kehilangan yang dirasakan (perceived loss) yaitu kehilangan yang sifatnya unik menurut orang yang mengalami kedukaan.
2.    Berduka
Berduka (grieving) merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Adapun jenis berduka yaitu :
1.      Berduka normal terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan.
2.      Berduka antisipatif yaitu proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhya terjadi.
3.      Berduka yang rumit dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ketahap berikutnya.
4.      Berduka tertutup yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka.
3.    Sekarat dan kematian
Sekarat (dying)  merupakan kondisi pasien yang sedang manghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal.




BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Konsep diri secara fisiologis, emosional dan social dibentuk berdasarkan reaksi orang lain terhadap seseorang dan kemudian oleh interpretasi individu tentang reaksi ini pada diri sendiri. Komponen konsep diri adalah identitas, citra tubuh, harga diri dan peran yang dapat dipengaruhi oleh peran kesehatan, pengalaman keluarga, social dan okupasi, serta aktivitas intelektual dan kesenangan. Identitas adalah rasa konsisten dari berbagai individu yang berbeda dari orang lain. Stresor identitas selama masa remaja dapat menimbulkan kebingungan identitas. Citra tubuh adalah gambaran mental tubuh seseorang yang dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan, nilai dan sikap budaya dan social, dan persepsi individu tantang tubuh. Stresor citra tubuh mencakup perubahan dalam penampilan fisik, struktur atau fungsi tubuh. Harga diri bergantung pada persepsi seseorang tentang ideal diri dan stresor harga diri meliputi perkembangan dan hubungan, penyakit, pembedahan serta respon individu lain terhadap perubahan individu yang di akibatkan oleh kejadian ini.
Dalam penanganan masalah konsep diri dibutuhkan peran perawat sebagai orang yang paling dekat dengan klien secara intensif. Untuk itu diperlukan hubungan  antara perawat-klien yang akan mempermudah dalam pemenuhan kebutuhan klien. Dalam hal ini komunikasi terapeutik memegang peranan penting yang memiliki tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Oleh karna itu perawat-klien dapat terlibat dalam peningkatan kesadaran diri klien, mendorong eksplorasi diri klien, membantu klien dalam evaluasi diri, membantu klien merumuskan tujuan dalam upaya adaptasi dan membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan.
B.  Saran
·                    Untuk mempermudah seorang perawat dalam pengaplikasian teori ini hendaknya seorang perawat memahami dan mampu membangun konsep dirinya sendiri yang positif




DAFTAR PUSTAKA

Alimuh H, A. Aziz. 2006, Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta : Salemba Medika.
Potter, Perry. 2005, Fundamental Keperawatan, Jakarta : EGC
Purwanto, heri. 1993, Komunikasi Untuk Perawat,  Jakarta : EGC
Tarwoto dan wartona. 2006, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.

RPP AQIDAH AKHLAK KELAS 2 MADRASAH ALIYAH

Nama: Sigit triyono
Kelas: 3 H
NIM: 26.09.3.1.241
PRODI : Tarbiyah /PAI.
IAIN SURAKARTAA


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : Madrasah Aliyah Negeri
Mata Pelajaran : Aqidah Akhlak
Kelas/Semester : IX/2
Standar Kompetensi : - Memahami iman kepada Qada dan Qadar
- Memahami perbedaan Qada dan Qadar

Kompetensi Dasar : - Menjelaskan pengertian iman kepada Qada dan Qadar
- Menunjukkan bukti atau dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
- Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar
- Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

Indikator : - Siswa diharuskan untuk membaca buku
akidah aklak tentang pengertian Qada dan
Qadar
- Siswa harus bisa mencari dan menulis dalil tantang Qada dan Qadar
- Siswa diharuskan mencari berbagai tanda peristiwa yang berhubungan dengan adanya Qada dan Qadar
- Siswa harus mencari ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- siswa itu sendiri harus beri contoh perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat :
- Memahami dan dapat menyampaika kepada orang lain apa itu Qada dan Qadar
- Menulis dan menunjukkan dalil kebenaran tentang Qada dan Qadar
- Menunjukkan berbagai tanda peristiwa yang berhubungan dengan Qada dan Qadar
- Memahami dan membuktikan ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Siswa dapat berperilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

B. Materi Pembelajaran : - Membaca dan memahami materi buku akidah aklak mengenai Qada dan Qadar
- Menulis, membaca dan mengartikan dalil-dalil tentang iman kepada Qada dan Qadar
1. Arti harfiah
2. Kandungan dalil-dalil iman kepada Qada dan Qadar
- Menunjukkan berbagai macam tanda-tanda yang berhubungan dengan Qada dan Qadar
- Memberi bukti ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Manfaat beriman kepada Qada dan Qadar

C. Metode Pembelajaran : Informasi, diskusi, Tanya jawab dan penugasan
D. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
I. Pendahuluan
- Apersepsi :Siswa diingatkan kembali tentang pentingnya memahami iman kepada Qada dan Qadar
- Motivasi : Memotivasi siswa akan pentingnya beriman kepada Qada dan Qadar
II. Kegiatan Inti
- Guru memberi pengertian atau penjelasan mengenai iman kepada Qada dan Qadar
- Guru menuliskan dan mengartikan dalil-dali tentang iman Qada dan Qadar
- Guru memberi contoh tentang kejadian peristiwa tentang Qada dan Qadar
- Guru memberi contoh tentang perilaku,ciri-ciri yang mencerminkan iman kepada Qada dan Qadar
- Guru memberi kesimpulan terhadap siswa mengenai iman kepada Qada dan Qadar
III. Penutup
1. Siswa berdiskusi di bawah bimbingan guru
2. Guru memberikan PR Atau tugas

E. Alat dan sumber belajar : Spidol, papan tulis, Buku paket, buku referensi, buku LKS, Al-Qur’an
F. Penilaian :
1. Teknik
2. Bentuk/instrumen : tertulis
3. Soal/instrumen:

1. Apa pengertian dari iman,Qada dan Qadar itu? jelaskan
2. Apa fungsi beriman kepada Qada dan Qadar dalam kehidupan sehari-hari…?
3. Sebutkan ciri-ciri dari beriman kepada Qada dan Qadar….?
4. Sebutkan tanda-tanda orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
5.Dalam dalil kebenaran adanya Qada dan Qadar, takdir terbagi menjadi 2 bagian,sebutkan dan jelaskan….?
6. Sebutkan contoh takdir mu’allaq ?
7. Sebutkan contoh takdir mubram?
8. Tulislah ( Q.S.Ar-Ra’DU,13:11) sekalian artinya!
9. Tuliskan firman allah dalam Q.S.AN-Najm,53:39-40 yang menjelaskan tentang ber ikhtiar!beserta artinya…!
10. Tuliskan firman Allah dalam Q.S.Al-Fajr ayat 27-30 mengenai ketenangan jiwa!beserta artinya…!

Kunci Jawaban:

1. Iman: keyakinan yang di yakini dalam hati, di ucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan amal perbuatan.
Qada: ketetapan
Qadar: ukuran
2. -mempunyai semangat ikhtiyar
-mempunyai sikap sabar dalam menghadapi cobaan
-sabar bahwa cobaan Qada dan Qadar dari Allah SWT
3.
a) qana’ah dan kemuliyaan diri
b) cita-cita yang tinggi
c) bertekad dan bersungguh-sungguh dalam berbagai hal
d) bersikap adil, baik pada saat senang maupun susah
e) selamat dari kedengkian dan penentangan
4.
a) banyak bersukur dan bersabar
b) menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
c) bersifat optimis dan giat bekerja
d) jiwanya tenang


5. 1. Takdir mu’allaq: takdir Allah yang masih dapat di usahakan kejadiannya oleh manusia.
2. Takdir mubram: takdir Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat di elakkan kejadiannya

6. Contoh takdir mu’allaq:
• bumi berputar pada porosnya 24 jam sehari,
• bersama bulan,bumi mengelilingi matahari -+365 hari setahun
• bulan mengitari bumi setahun 365 sehari,dll

7. contoh takdir mubram: nasib manusia, lahir, kematian, jodoh dan riskinya, terjadi kiamat dan sebagainya.
8.
                 •         
artinya. …………Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

9.
       •    
Artinya: Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).



10.

 • •      •       • 

Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,Masuklah ke dalam syurga-Ku.


Pedoman penskoran instrumen/soal: Satu soal jika dijawab benar skor 10.
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 sebagai berikut:
Nilai akhir = x skor ideal (100)

Jumat, 25 Maret 2011

ALIRAN ESENSIALISME

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM ALIRAN ESENSIALISME

Disusun Oleh :
SIGIT TRIYONO ( 26.09.3.1.241 )

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang munculnya aliran esensialisme
Esensialisme muncul pada zaman renaisans dengan ciri-ciri utamanya berbeda dengan progresivisme. Progresif mempunyai pandangan bahwa banyak hal itu mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang. Esensialisme menganggap bahwa dasar pijak fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.
Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Berkaitan dengan hal itu pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kesetabilan. Agar dapat terpenuhi maksut tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih yang mempunyai tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.

B. Hakikat Aliran Esensialisme
Esensialisme merupakan aliran yang ingin kembali kepada kebudayaan-kebudayaan lama yang warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniawian, serba ilmiah dan materialistic. Selain itu juga didasari oleh pandangan-pandangan dari penganut aliran idealisme dan realisme.
Esensialisme juga merupakan konsep yang meletakkan sebagian dari ciri alam pikir modern. Sebagaimana halnya sebab musabab munculnya renaisans. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Maka disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang memenuhi tuntutan zaman modern.
Realisme modern yang menjadi salah satu eksponen esensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam atau dunia fisik. Sedangkan idealisme modern sebagai ekspon yang lain, pandangannya bersifat spiritual. John Deonal Butler mengutarakan secara singkat ciri dari masing-masing ini sebagai berikut.
Alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri,dan ini harus dijadikan pangkal berfilsafat. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik dan disanalah terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental. Jadi jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik.
Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan atau ide. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak tebatas yaitu Tuhan yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berfikir berada dalam lingkungan kekuasaan tuhan. Dengan menguji dan menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, manusia akan dapat mencapai kebenaran yang sumbernya adalah Tuhan sendiri.
Idealisme modern dengan tokoh-tokoh utamanya di jerman pada abad ke 17dan ke 18, mengutarakan dan membahas pokok-pokok persoalan yang dekat dengan manusia, diantaranya terolahnya kesan-kesan indera oleh akal dan proses penjelmaannya menjadi pengetahuan. Demikian pula oleh realisme, masalah-masalah tersebut juga menjadi objek peninjauan seperti terbukti dari gagasan-gagasan dari tokoh-tokohnya di inggris sebelum idealisme muncul.

C. Tokoh-tokoh aliran esensialisme
a. Desiderius Eranus, belanda
b. Johan Amos Comenius
c. c. John Locke. Inggris
d. Johann henrich Pestalozzi
e. Johan Freidrich Frobel
f. G.W. Leibniz
g. Immanuel kant
h. O.W.F. Hegel
i. Arthur Schopenhaner
j. Thomas hobbes
k. Davis Hume
l. Francis Bacon

D. Pandangan-Pandangan Aliran Esensialisme

1. Pandangan mengenai realita
Sifat yang menonjol dari ontology esensialisme adalah suatu konsesi bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Ini berarti bahwa bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut. Di bawah ini adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan idealisme.
1. Realisme yang mendukung esensialisme disebut realisme objektif, karena mempunyai cara pandang yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia di dalamnya
2. Idealisme objektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme objektif. Yang dimaksud dengan ini adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu., dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakekatnya adalah jiwa atau spirit, idelisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata.

2. Pandangan mengenai pengetahuan
Pada kaca mata realisme, masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan dengan penelaahan bahwa manusia perlu dipandang sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut idealisme, pandangan mengenai pengetahuan ini bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.
Bersendikan prinsip di atas dapatlah dimengerti bahwa realisme memperhatikan berbagai pandangan dari tiga aliran psikologi asosianisme, behaviorisme dan koneksionisme. Dengan memperhatikan tiga aliran ini, yang pada dasarnya mencerminkan adanya penerapan metode-metode yang lazim untuk ilmu pengetahuan alam kodrat, realisme menunjukkan sikap lebih maju mengenai masalah pengatahuan ini dibanding dengan idealisme.

3. Pandangan mengenai nilai
Menurut realisme kwalitas nilai tidak dapat ditentukan secara konseptual terlebih dahulu, melainkan tergantung dari apa atau bagaimana keadaannya bila dihayati oleh subjek tertentu dan selanjutnya akan tergantung pula dari sikap subjek tersebut.
Teori lain yang timbul dari realisme disebut determinisme etis. Dikatakan bahwa semua yang ada dalam alam ini termasuk manusia mempunyai hubungan hingga merupakan rantai sebab-akibat. Realisme berdasarkan atas keturunan dan lingkungan.
Nilai keindahan adalah suatu kenikmatan yang dihasilkan dalam pengalaman bila kognisi dan perasaan bercampur atau saling berpengaruh. Yang dimaksud dengan kognisi disini adalah persoalan persepsi sebagaimana dihubungkan dengan kenikmatan keindahan. Kenikmatan seseorang mengenai keindahan itu merupakan perpaduan antara pengalaman, persepsi, dan perasaan.

4. Pandangam mengenai pendidikan
Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umur, simplikatif dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dapat memberikan gambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Esensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut abad pertengahan.

5. Pandangan mengenai belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami dirinya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.
Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:
a. Determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.
b. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.

6. Pandangan mengenai kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiel dan organisasi yang kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Bogoslousky, mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian:
a. Universum
Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
b. Sivilisasi
Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera.
c. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
d. Kepribadian
Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riel yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi, emosional dan intelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.
Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak, fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian.
Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi.
Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen atau dasar dari susunannya yang paling kompleks. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis.


BAB III
KESIMPULAN

Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman
Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen essensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah, berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan pertemuan keduanya.
Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan (ide-ide). Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan.
Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT

DAFTAR PUSTAKA

Barnadip, imam, filsafat pendidikan, yogyakarta: andi offset, 1987
http://fadliyanur.blogspot.com/2008/05/aliran-esensialisme.html
Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Yayasan Penerbit Fip IKIP, Yogyakarta
Khobir, Abdul, filsafat pendidikan islam, pekalongan: STAIN PRESS, 2007.
Zunairini. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta, Bumi Aksara.

KECERDASAN INTRAPERSONAL

KECERDASAN INTRAPERSONAL


BAB I
PENDAHULUAN
Hubungan erat antara orang tua –anak akan menciptakan rasa aman secara emosi pada anak. Ciri-ciri anak yang merasa aman dapat dilihat secara emosi lebih tenang ketika menghadapi perpisahan dengan Ibunya, rasa ingin tahunya jauh lebih besar dan ingin bereksplorasi. Seperti ingin diketahui bahwa rasa ingin tahu yang besar merupakan landasan belajar yang utama. Anak yang selalu ingin tahu menjadi pembelajar aktif, dengan gigih berusaha mencari jawab atas keigintahuannya. Seorang anak yang dengan rasa ingin tahu yang besar dapat dikenali dari penampilannya yang menyenangkan, kreatif dan tidak membosankan.
Dukungan orang tua untuk menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang unik, dengan segala keberadaannya seperti temperamen, karakter, dan potensinya akan mendukung pertumbuhan anak untuk belajar memahami diri dan tentunya jauh lebih mandiri.
Terfokus anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri dan mampu mengendalikan diri dalam situasi sulit. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungannya.
Munculnya kecerdasan Intrapersonal pada anak usia dini telah mendapat konsep permulaan mengenai diri, misalnya sebuah episode yang digambarkan oleh Seymour Epstein dari Universitas Massachussets yaitu seorang anak kecil bernama Diana yang berusia 2 tahun, duduk dimeja bersama keluarga besarnya. Diana diminta menunjuk bibi Rina, dan hal itu dilakukan dengan betul. Kemudian ada suatu permainan dimana mereka meminta Diana menunjuk kebelbagai orang, setelah itu salah seorang diantara mereka berkata ”tunjuk Diana”. Anak itu bingung, iapun menunjuk kesembarang orang. Kemudian ibunya berkata ” kamu tahu siapa Diana. Tunjuk pada gadis kecil yang biasa dipanggil Diana.” Sekarang ia mengerti dan tanpa ragu – ragu menunjuk dirinya.
Ketika anak mulai tumbuh dan berkembang, dia akan terus menerus berusaha dan mencari dan membangun identitasnya, anak ingin mengetahui siapa dirinya dan bagaimana menyesuaikan diri dengan dunianya. Dalam proses pertumbuhan dan proses belajar mau tidak mau anak akan bertemu dengan dengan orang-orang yang melampaui dirinya dalam penampilan, kemampuan dan bakat .
Jika orang tua tidak menolong anaknya untuk mengembangkan pemahaman yang kuat mengenai diri dan keunikannya pada anak usia dini, akan membawa anak pada citra diri dan harga diri yang rendah. Bukannya membantu, banyak orang tua yang bahkan membuat masalah bertambah parah dengan berusaha membentuk anak-anak mereka menjadi orang-orang yang menurut mereka cocok bagi anaknya ” Ayahmu seorang dokter terkenal, kamu harus bisa seperti Ayahmu ” kemungkinannya apabila anak gagal memenuhi harapan orang tua, anak akan merasa bahwa dia telah membuat orang tua gagal. Hal ini akan memperparah perasaan tidak berharga pada diri anak.
Selain itu, banyak orang tua keliru memotivasi anak mereka dengan membuat perbandingan, misalnya mereka mengatakan hal-hal seperti ini, ”Rinto, mengapa kamu tidak dapat menggambar sebagus kakakmu? Atau Deo, jika kamu menyisir rambutmu dengan rapi, kamu akan setampan temanmu Roni.” Melakukan hal seperti itu hanya akan membuat seorang anak merasa lebih buruk mengenai dirinya dan anak akhirnya akan tumbuh menjadi orang dengan kecerdasan intrapersonal yang sangat rendah.
Alangkah positifnya, apabila orang tua perlu mengingatkan anak bahwa dia unik, menarik , istimewa dan sebaiknya tetap menjadi sebagaimana dirinya. Selalu katakan kepada anak bahwa dia memiliki karunia, kelebihan, dan bakat yang khusus. Mendukung kelebihan melalui pengakuan Misalnya, apabila seorang Ibu melihat anaknya melakukan sesuatu yang baik, maka Ibu tersebut akan menyatakan ”engkau berbakat”. Jika orang tua memperhatikan bahwa anaknya pandai dalam menggambar, maka akan baik dan tepat bila berkata”Wah, gambarmu bagus sekali, Ibu yakin banyak orang yang tidak dapat melakukannya sebaik kamu nak”.
Seorang anak bukan hanya hasil dari ”chromosom” dan ”gene” orangtua wariskan tetapi anak juga merupakan hasil lingkungan yang orang tua ciptakan untuk anaknya. Lingkungan tersebut mencakup hal-hal fisik seperti makanan, pakaian, rumah, hal-hal yang menyenangkan dan permainan. Lingkungan juga mencakup orang-orang sekitar dan cara anak bertingkah laku. Tingkah laku orang tua memberikan kepada anak kesan pertama tentang dunia disekitarnya.
Sebagai orang tua, cara orang tua tertawa, tersenyum, cemberut, gembira, sedih, senang atau marah, puas atau kecewa, semua itu akan membentuk kepribadian anak. Si anak akan menyerap keadaan emosional orang tua sebelum dia memahami kata-kata yang diucapkan oran tuanya. Sejak usia dini, anak telah menyerap ekspresi, isyarat dan suasana hati orang-orang disekelilingnya. Tabiat, tingkah laku atau pola kepribadian anak, sangat ditentukan oleh orang tua. Si anak tanpa disadari akan mengadakan seleksi dari hal-hal yang orang tua idealkan, nilai-nilai, prasangka, kekuatan dan kelemahan orang tua dijadikan milik anak, bahkan sifat neurotik orang tua bisa diambil alih oleh anak. (William, 1982,h.7)
Satu kelompok pengalaman diperoleh anak melalui latihan buang air kecil dan besar ”toilet training”. Hal ini memberi kesempatan yang sangat bagus pada anak untuk memberi atau menolak, bersikap kerjasama atau melawan. Membentuk kebiasaan kerapian atau kecerobohan. Juga membantu dalam membentuk sifat-sifat seperti kebiasaan untuk dapat melakukan sesuatu dengan lebih mandiri. Semua kondisi tersebut dapat menjadi kebiasaan sepanjang hidup.



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Kecerdasan Intrapersonal
Menurut May Lwin, dkk (2003) kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai mengenai diri sendiri, kecerdasan ini merupakan kemampuan memahami diri sendiri dan bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri.
Sedangkan Suryadi (2006, h.48) berpendapat bahwa kecerdasan Intrapersonal adalah kemampuan diri kita untuk berpikir secara reflektif, yaitu mengacu pada kesadaran reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Adapun kegiatan yang mencakup kecerdasan ini adalah berpikir, merancang tujuan, refleksi merenung, membuat jurnal, menilai diri, intropeksi, dan sebagainya.
Tokoh lain seperti Thomas Armstrong dalam bukunya Multiple Intelligences ( 2004,h.4) Kecerdasan Intrapersonal merupakan kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri sendiri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri), kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri , memahami dan menghargai diri.
Dukungan dari tokoh lain untuk memperkuat pengertian Kecerdasan Intrapersonal adalah Andyda Meliala ( 2004, h.81) yang menyebutkan bahwa kecerdasan Intrapersonal merupakan kecerdasan diri sendiri, yaitu suatu kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas hidup pribadinya. Orang dengan kecerdasan ini cenderung menjadi pemikir ulung, yang secara teratur mengadakan refleksi diri dan perbaikan diri. Penuh percaya diri dan mandiri merupakan ciri utama pada kecerdasan ini.
Dari beberapa pengertian tentang kecerdasan Intrapersonal dapat digarisbawahi bahwa kecerdasan ini menitikberatkan pada konsep pemahaman diri atas hidup pribadinya.

2. Ciri Anak Cerdas Diri
1. Menyadari tingkat perasaan dan emosinya
2. Mengekspresikan emosi secara tepat
3. Punya kemampuan memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan
4. Bisa menertawakan kesalahan diri sendiri
5. Mampu duduk sendiri dan belajar mandiri
6. Penuh percaya diri
7. Independen atau Mandiri
8. Mampu mengontrol diri sendiri (tidak sering mengamuk)
9. Meluangkan waktu untuk duduk sendirian untuk melamun dan bicara pada diri sendiri (contoh. Thomas; bermain sendiri sambil membuat cerita, melatih kata-kata baru)

3. Manfaat Mengembangkan Kecerdasan Intrapersonal
1. Citra Diri .
Membangun citra diri yang kuat untuk memiliki emosi yang stabil. Sesorang dengan citra diri yang lemah cenderung sulit mengontrol emosi (labil) ketika dihadapkan pada masalah. Jika citra diri anak tidak dibangun, maka anak cenderung mudah tersinggung, kesepian, bosan, dan sulit menghadapi masalah.
2. Pengendalian emosi.
Pengendalian emosi yang prima membawa anak kepada tujuannya. Anak dapat melawan kemalasan, keraguan, kemarahan dan ketakutannya. Sebaliknya lemah dalam pengendal;ian emosi dapat berdampak negatif pada saat anak diharuskan untuk memulai suatu langkah atau tindakan. Gagal dalam pengendalian emosi bisa mengakibatkan anak sama sekali tidak berani mulai melangkah.Contohnya, seorang anak yang minder sulit sekali memulai hubungan pertemanan.
3. Bertanggung jawab pada diri sendiri
Anak yang cerdas diri bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, anak yang bertanggung jawab mudah mengakui kesalahannya dan berniat memperbaikinya. Sebaliknya, mudah dilihat pada anak yang tidak bertanggung jawab pada diri sendiri sering mencari-cari alasan, menyalahkan orang lain atas kegagalan atau tidak tercapainya suatu target.
4. Harga diri
Seorang pakar dari motivasi dari Amerika, Betty B. Young menyebutkan 6 unsur pokok dari harga diri, yaitu;
1. Keamanan fisik; rasaaman dari siksaan fisik
2. Keamanan emosi; bebas dari intimidasi dan ketakutan
3. Identitas; tahu ”siapakah aku”
4. Afiliasi; ada rasa memiliki
5. Kompetensi; percaya bahwa ”aku bisa”
6. Punya tujuan :mempunyai rasa memiliki tujuan tujuan dan arti hidup
Anak yang memiliki rasa percaya diri disebabkan oleh pemenuhan atas keenam unsur tersebut dapat dkatakan sebagai karakter pemenang. Pengertian karakter pemenang adalah seorang anak yang sanggup mengalahkan rekor terbaik dirinya sendiri, yang sanggup berkarya lebih baik dari daripada hari kemarin.

4. Cara Mengembangkan Kecerdasan Intrapersonal
1. Menciptakan citra diri Positif
Orang tua dapat memberikan citra positif, citra diri yang baik pada anak yaitu dengan menampilkan sikap hangat namun tegas pada anak, sehingga anak tetap memunyai rasa hormat pada orang tua. Selain itu orang tua juga menghormati dan peduli pada anaknya, hal ini akan menawarkan lebih mudah pada masalah perhatian, penghargaan, dan penerimaan pada anaknya.
2. Menciptakan suasana rumah yang aman
Bila suasana rumah tidak mendukung kemampuan intrapersonal dan penghargaan diri seorang anak, akibatnya yang terjadi anak akan menolak dan tidak menghargai kondisi dan suasana rumah. Untuk itu orang tua perlu menghindari situasi eperti itu, agar kemampuan intrapersonal anak tidak terhambat.
3. Kondisi lingkungan rumah
1. Anak tentu memiliki suasana hati yang dialaminya pada suatu saat tertentu, agar anak terbiasa dan mampu mencurahkan isi hatinya,beri anak kegiatan tulis menulis kegiatannya. Dengan begitu anak dapat menuangkan isi hatinya dalam bentuk tulisan ataupun gambar.
2. Orang tua dapat menanyakan pada anak dengan suasana santai, hal-hal apa saja yang ia rasakan sebagai kelebihannya dan dapat ia banggakan serta kegiatan apa saja yang saat ini tengah ia minati. Orang tua sebaiknya membantuvanak menemukan kekurangan dirinya, semisal sikap-sikap negatif yang harus diperbaiki.
3. Memberikan kesempatan menggambar diri sendiri dai sudut pandang anak. Tak jauh berbeda dengan kegiatan mengisi jurnal pribadi, kegiatan menggambar ini akan membuat anak seakan ”berkaca” dalam melihat siapa dirinya sesuai dengan perasaannya, dan apa yang dia lihat sendiri, ini berguna bagi anak untuk menambah kemampuannya melihat diri sendiri.
4. Melakukan perbincangan dengan anak semisal anak ingin seperti apa bila besar nanti. Biarkan anak mengkhayalkan masa depannya. Dari kegiatan ini orang tua dapat mengetahui bagaimana anak membimbing dirinya disaat ini dan juga saat yang akan datang
5. Mengajak anak berimajinasi menjadi tokoh satu cerita. Berandai-andai menjadi satu tokoh cerita yang dia gemari, hal ini dapat dilakukan untuk mengasah kecerdasan intrapersonal.
6. Alangkah baiknya apabila orang tua memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri dengan tujuan agar ia mampu membantu dirinya sendiri, Mulailah dari hal-hal kecil dan kebiasaan sehari-hari. Caranya dengan tidak langsung mengulurkan tangan saat anak belajar melakukan sesuatu. Belajar memakai sepatu sendiri, kaus kaki, t-shirt, mengancingkan baju, berjalan kaki kerumah tetangga merupakan latihan-latihan yang akan membuat anak mandiri.
7. Seandainya anak menemui masalah, misalnya kesulitan memakai sepatu sendiri, orang tua bisa membantu dengan memberiny jembatan berpikir ke arah solusi yang diharapkan.misal, ”jika Adek tidak bisa melakukan seperti itu , harusnya bagaimana?”coba lihat baik-baik tali sepatunya, Adik bisa kok kalau dilakukan pelan – pelan”. Biarkan anak menemukan solusi sendiri dari masalahnya. Bagaimana orang tua harus menstimulasi anak untuk berpikir kreatif menemukan beberapa alternatif solusi. Sikap kratif ditandai dengan munculnya ide-ide baru, berbagai inovasi serta solusi tepat disaat menemu hambatan dan kesulitan. Dengan demikian, kratifitas adalah salah satu ciri anak tangguh yang memperkuat kemandirian. Orang tua hendaknya memberi kepercayaan penuh atas kemampuan ini. Disini yang diperlukan adalah kesabaran untuk menunggu hasilbyang memang tidak bisa cepat dan instan.
8. Sejak usia dini anak membutuhkan motivasi, anak yang memiliki motivasi menunjukkan adanya keinginan dan kemauan untuk mendapat hasil maksimal, begitupun ketika anak anak menghadapi rintangan dan kesulitan, ia mempunyai keinginan untuk mengatasinya. Keinginan untuk lingkungannya seperti berguling, berjalan, berbicara, tersenyum, mengespresikan kegembiraan dan lainnya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Peran orang tualah untuk dapat menstimulasi anak supaya anak tidak mudah menyerah, berani menghadapi kegagalan. Bila anak tidak memiliki motivasi diri yang bai k, dalam menghadapi rintangan anak akan lekas puas, mudah menyerah, tak semangat untuk maju dan daya juangnya rendah..



BAB III
PENUTUP

Setelah membaca dan memahami mengenai kecerdasan Intrapersonal pada anak usia dini, kita dapat memperoleh saran praktis mengenai cara mengenali dan membina kecerdasan intrapersonal anak melalui berbagai aktivitas.
Kita juga telah melihat bagaimana tampaknya kinerja anak terkait dengan kecerdasan tersebut. Suatu pertimbangan penting pada saat ini adalah dalam menilai setiap anak orang tua harus tetap obyektif, mengingat setiap anak mengembangkan kemampuan dengan kecepatan yang berbeda. Setiap anak adalah seorang individu yang unik dengan ciri yang tidak sama, dan setiap anak memiliki yang tidak terbatas untuk belajar mengeksplorasi diri.
Kekuatan pemahaman diri pada seorang anak sangat dibutuhkan untuk dapat berekspresi, eksis, dan berkarya dengan optimal. Untuk itu diperlukan kemauan berproses dan tidak mengukur keberhasilan hanya dari akhirnya saja. Penghargaan terhadap hasil semata akan membuat anak merasa kalah sebagai orang yang kalah sekiranya ia menemui kegagalan. Padahal untuk dapat meraih prestasi seorang anak harus merasa tertantang, walaupun pernah mengalami kegagalan.
Apabila seorang anak mengalami ketidakseimbangan akibat tuntutan orang tua yang terlalu tinggi dan selalu naknya berhasil tanpa mengindahkan proses. Umumnya ia akan kesulitan menjaga keseimbangan antara kelebihan, keterbatasan, maupun keunikan dirinya. Suatu saat anak akan merasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri. Secara psikologis anakpun relatif rentan mengalami hambatan pengaktualisasian diri.
Anak yang cerdas diri tidak mudah putus asa, anak dengan kemampuan ini memiliki kemampuan menghadapi masalah serta mencari dan menemukan solusi efektif bagi persoalan yang dihadapinya. Dalam masa perkembangannya, berbagai persoalan mungkin tidak hanya cukup dihadapi dengan intelektualitas tetapi juga diperlukan dengan pendekatan emosi.
Oleh karena itu, untuk dapat menjadi anak yang cerdas diri ( self smart) anak harus tetap mendapatkan stimulasi pendukung pada semua jenis kecerdasan, terutama kecerdasan emosi, sosial, maupun spiritual. Semua ini harus diberdayakan dan dioptimalkan agar anak mempunyai kunci- kunci yang membuka potensi kecerdasannya.



DAFTAR PUSTAKA

Andyda Meliala, 2004. Anak Ajaib. Yogyakarta.Andi Offset

Dale R. Olen 1987. Kecakapan Hidup Pada Anak. Yogyakarta, Kanesius

May Lwin,dkk, 2005, Cara membangkitkan Berbagai Komponen
kecerdasan. Jakarta. Gramedia

Nakita, 2006. Panduan Tumbuh Kembang. Jakarta. PT.Sarana kinasih

Pusat Bimbingan UKSW, 1981. Bagaimana Meningkatkan Pemahaman
Diri. Salatiga, Percetakan Satya Wacana

Suryadi, 2006. Kiat Jitu Mendidik Anak.Jakarta, Edsa Mahkota

Thomas Armstrong, 2002. Multiple Inteligences. Bandung, Kaifa